pantun nasib suka cita

SILAHKAN SCROLL KEBAWAH UNTUK MELIHAT YANG LAINNYA

Orang bandung memintal kapas,
Anak cina berkancing tilang.
Ayah kandung pulang lekas,
Anak anda rindu bukan kepalang.

Padi pulut di dalam bendang,
Banyak rumput dari jerami.
Mulut kita di suapi pisang,
Ekor dikait dengan duri.

Pisang mas bawa berlayar,
Masak sebiji di atas peti.
Utang mas boleh dibayar,
Utang budi dibawa mati.

Rumpuh buluh dibuang pagar,
Cempedak dikerat-kerit.
Maklumlah pantun saya belajar,
Saya budak belum mengerti.

Sayang pisang tidak berjantung,
Bunga keluar dari kelopak.
Penat sangat ibu mendukung,
Adik juga tak mau gelak.

Tiada boleh menetak jati,
Papan di jawa dibelah-belah.
Tiada boleh kehendak hati.
Kita dibawah perintah Alloh.

Suara guntur bergemuruh
Matahari bersinar terik
Begini nasib seorang buruh
Habislah hidupnya di pabrik

Tolong bawakan daku elap
Emas bercahaya sangat mengkilap
Berangkat masihlah gelap
Pulang ke rumah smua terlelap

Air tuba warnanya keruh
Hanya dilihat bertopang dagu
Apa yang ditunggu seorang buruh
Gaji bulanan untuk seminggu

Malaka kerajaan samudra pasai
Tempat pedagang yang teruji
Mengapa wajah kusut masai
Karna bingung membagi gaji

Belum titik barulah koma
Belum habis semua tinta
Gaji belumlah diterima
Angsuran bulanan sudah meminta

Gula jawa gula merah
Untuk membuat kue pala
Di tempat kerja si bos marah
Istri di rumah marah pula .... (pyusing..)

Cantik sekali gadis langsing
Wajah lembut terlihat bening
Bagaimana hati tidak rungsing
Anak merengek ibunya pening

Cari ikan dengan tajur
Tajur hilang masuk lumpur
Hendak hati ingin tidur
Istri ribut minta uang dapur

Mari menanam kucai bawang
Jangan duduk santai bersila
Pusing bagaimana menambah uang
Duduk termenung seperti gila

Badan tua sudah renta
Siapa pula hendak menyapa
hendak menangis tak ada air mata
Hendak mengadu pada siapa

Parang sakti dari baja
Si pandai dapat piala
Sudah buruh tak ada kerja
Tak ada kerja pening kepala