puisi bulan purnama

SILAHKAN SCROLL KEBAWAH UNTUK MELIHAT YANG LAINNYA

BULAN PURNAMA

Melihat bulan purnama
Bersinar cerah di langit gelap
Ku tidak dapat menahan gambar sejajar dengan hidupku

Satu lingkaran lengkap itu telah datang,
Apa yang dimulai sebagai sebuah hal kecil
Sekarang telah selesai dan selesai
Dengan tahap selanjutnya sudah dalam gerakan;

Seperti bulan purnama,
Hidupku mencapai puncak tertinggi dan
Seperti semua hal yang baik, itu telah berakhir,
Dan perlahan-lahan memudar menjadi dilupakan;

Sedikit demi sedikit, itu mulai memudar
Sedikit demi sedikit, perlahan-lahan dan mantap
Meninggalkan kesan jangka panjang di belakang
Itu perlahan-lahan pindah dari konteks;

Hidup terus berjalan,
Ke atas dan ke bawah,
Berkurang dan bertambah
Seperti bulan yang berputar

Seperti kawah di bulan,
Semua peristiwa terukir dalam-dalam kenanganku
Tidak pernah memudar dan mengingatkanku pada
Baik dan hari-hari buruk dalam hidup;


Sajak Bulan Purnama

Pengarang: W.S Rendra
Kategori: W.S Rendra
Bulan terbit dari lautan.
Rambutnya yang tergerai ia kibaskan.
Dan menjelang malam,
wajahnya yang bundar,
menyinari gubug-gubug kaum gelandangan
kota Jakarta.

Langit sangat cerah.
Para pencuri bermain gitar.
dan kaum pelacur naik penghasilannya.
Malam yang permai
anugerah bagi sopir taksi.
Pertanda nasib baik
bagi tukang kopi di kaki lima.

Bulan purnama duduk di sanggul babu.
Dan cahayanya yang kemilau
membuat tuannya gemetaran.

“kemari, kamu !” kata tuannya
“Tidak, tuan, aku takut nyonya !”
Karena sudah penasaran,
oleh cahaya rembulan,
maka tuannya bertindak masuk dapur
dan langsung menerkamnya

Bulan purnama raya masuk ke perut babu.
Lalu naik ke ubun-ubun
menjadi mimpi yang gemilang.
Menjelang pukul dua,
rembulan turun di jalan raya,
dengan rok satin putih,
dan parfum yang tajam baunya.
Ia disambar petugas keamanan,
lalu disuguhkan pada tamu negara
yang haus akan hiburan.